Tidak Ada Penahan Muslim Di China

 Nasional

JAKARTA –  Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah membantah bahwa pemerintah China menahan jutaan etnis Uighur yang mayoritas beragama Islam dalam sejumlah kamp penahanan di Provinsi Xinjiang.

“Dari segi tempat, kamp, asrama, dan ruang kelas nyaman dan sangat layak sekali, tidak seperti penjara,” kata Sekretaris PP Muhammadiyah, Agung Danarto, melalui pernyataan yang dirilis situs resmi Muhammadiyah, Rabu (6/3/2019).

Pernyataan itu diungkapkan setelah dirinya mengunjungi Xinjiang sekitar pertengahan Februari lalu. Bersama sejumlah petinggi PP Muhammadiyah lainnya, Agung mengunjungi tiga dari tujuh kamp yang ada di Xinjiang.

Agung mengatakan pemerintah China menyebut kamp-kamp itu sebagai sekolah vokasi pembinaan untuk deradikalisasi. Menurut dia, setiap kamp berisi sekitar 3.000 orang. Para etnis Uighur hanya tinggal di kamp tersebut pada Senin hingga Jumat, serta diizinkan pulang ke rumah masing-masing pada sabtu dan minggu.

“Di kamp itu pertama mereka (Uighur) diberi keterampilan life skill macam-macam. Ada soal perternakan, pertanian, perhotelan, restoran, masak-memasak, hingga otomotif. Bahkan keterampilan musik, menyanyi dan lainnya itu diajarkan di situ,” tutur Agung.

Ia mengatakan sebagian besar warga di kamp tersebut mengikuti pendidikan vokasi selama enam bulan hingga 1,5 tahun.

Dia menurutkan kamp-hamp tersebut merupakan upaya pemerintah China memberdayakan sumber daya manusia warga Xinjiang, yang merupakan wilayah paling miskin di China.

Agung juga mengatakan kamp itu dibangun China sebagai upaya memberantas radikalisme yang berpotensi tumbuh di Xinjiang.

Menurutnya negara komunis itu memiliki trauma terhadap aksi terorisme yang sempat terjadi di Xinjiang dan sejumlah wilayah lainnya. Ia menuturkan sejak 2000-2015 puluhan kali terjadi aksi terorisme di sana.

“Entah itu meledakkan bom di bus, pasar, dan jalan sehingga tampaknya China memiliki trauma tersendiri terhadap terorisme dan separatis,” kata Agung

No Responses

Leave a Reply