Pendidikan Keluarga Dimulai dari Seribu Hari Pertama Kehidupan

 Nasional

Surakarta — Ir. Sukarno, proklamator sekaligus Presiden Republik Indonesia pertama, pernah berkata, Berikan aku 1000 anak muda maka aku akan memindahkan gunung, tapi berikan aku 10 pemuda yang cinta tanah air maka aku akan mengguncang dunia, saat berorasi di Hari Pahlawan tahun 1961. Menginspirasi!

Tapi, taukah Anda? Periode seribu hari pertama kehidupan sangatlah penting untuk ciptakan pemuda-pemuda Indonesia yang mengguncang dunia.

Penghitungan fase seribu hari pertama diawali ketika bayi berada di dalam kandungan hingga berusia dua tahun. Penghitungannya, sembilan bulan di dalam kandungan (270 hari), hingga usia dua tahun anak (730 hari).

Saat menghadiri Seminar Nasional Pendidikan Keluarga, beberapa waktu lalu (21/5), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy, mengungkapkan, pentingnya keluarga untuk mempersiapkan fase seribu hari pertama kehidupan bagi anak.

“Itu sangat mendasar bagi kecerdasan anak ke depan, mempengaruhi bagi prestasi siswa di kelas,” tegas Menteri Muhadjir.

Ada gejala umum, lanjut Menteri Muhadjir, bahwa dari tampilan fisik bagus, tapi secara kemampuan otak sangat kurang.

“Untuk itu, kemampuan anak untuk belajar dan memahami pelajaran sangatlah dipengaruhi periode seribu hari pertama kehidupan si anak,” himbau Menteri Muhadjir.

Direktur Pembinaan Keluarga Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Ditjen PAUD-Dikmas), Sukiman, mengungkapkan penyiapan fase seribu hari pertama memerlukan pelibatan antar kementerian dan lembaga.

“Ini adalah pekerjaan lintas sektor dan semua harus terlibat. Itu lebih kental di stimulasi dan menyangkut bersinggungan sekali dengan gizinya,” jelas Direktur Sukiman, usai Sesi Pembahasan Seribu Hari Pertama pada Seminar Nasional Pendidikan Keluarga, di Kota Surakarta, Jawa Tengah, Senin (22/5).

Paguyuban Informasi
Pada tataran Kemendikbud, pendekatan melalui satuan pendidikan PAUD, bekerjasama dengan Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) dilakukan.

“Kami mengumpulkan para ibu PKK ini untuk bisa bekerjasama dengan PKK, kita berharap persebaran informasi menjadi lebih massif,” ujar Direktur Sukiman.

Sehingga, pertemuan rutin melalui paguyuban-paguyuban masyarakat setiap bulan menjadi media berbagi informasi.

“Paling tidak, kami menargetkan untuk ada media pertemuan sekali di tiap bulannya, sehingga minimal ada 10 kali pertemuan di dalam setahun,” jelasnya.

Disinilah, TP PKK dapat bisa berperan sebagai penggerak bagi orang tua PAUD.

“Para ibu bisa berkumpul di lembaga PAUD, bergantian menjadi fasilitator untuk berbagi informasi, yang terpenting adanya diskusi, mengingatkan kepada ibu-ibu bahwa mulai dari dalam kandungan, anak sudah mulai bisa distimulasi perkembangannya,” ujarnya.

Pemanfaatan media sosial
Pada sisi lain, materi-materi pendidikan keluarga disampaikan mendetail melalui laman Sahabat Keluarga, di http://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/m/.

“Jadi, ini sebuah gerakan dengan tidak memakai hitungan cakupan. Tapi, kita memakai media sosial, yaitu berupa laman Sahabat Keluarga. Sehingga, penyebaran informasi lebih merata,” ujar Direktur Sukiman.

“Kalau ada penghitungan melalui cakupan target misalkan 1000, 2000 selama setahun. Itu kapan akan merata Indonesia,”tutupnya. (*)

No Responses

Leave a Reply