Opsi Tingkatkan Sosialisasi Pencegahan HIV/Aids

 Olah Raga Dan Kesehatan


Jakarta – Opsi saat ini sedang memperluas sosialisasi terhadap PS, guna meningkatkan taraf kehidupan para Pekerja Seks (PS).

OPSI atau Organisasi Perubahan Sosial Indonesia adalah Jaringan Nasional penanggulangan HIV dan Hak Asasi Manusia (HAM) bagi kelompok resiko tinggi dan Marginal (pekerja seks). Hingga kini opsi telah berada di 20 provinsi di Indonesia dan aktif melakukan pendampingan dan riset.

Opsi mengadakan Media Gathering dengan Komunitas Pecandu Narkoba, Komunitas Transgender dan dengan beberapa komunitas lainnya, seperti JIP Jaringan Indonesia Positive (JIP) YPJ Yayasan Pesona Jakarta (YPJ), YSS Yayasan Srikandi Sejati (YSS), dan PKNI Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI) di RPTRA Borobudur, Jakarta Pusat, Jumat (19/4).

Pemerintah saat ini, sedang meningkatkan program-program yang mensejahterakan masyarakatnya. Khusus dalam sosialisasi kali ini Opsi bekerjasama dengan pemerintah sedang menggalakkan pencegahan terhadap HIV dan Aids. Selain itu juga, sosialisasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup bagi para komunitas tersebut.

Penutupan lokalisasi di berbagai daerah di Indonesia tidak menghentikan dan mengurangi jumlah pekerja seks. Penutupan lokalisasi disertai dengan sikap pemangku kepentingan yaitu pemerintah lokal yang menganggap penutupan lokalisasi sama dengan tidak adanya pekerja seks membuat pendekatan penanggulangan HIV pada pekerja seks perempuan yang selama ini berbasis lokasi menjadi tidak dapat dijalankan lagi.

Keberadaan pekerja seks menyebar ke berbagai tempat baru yang sulit dijangkau oleh petugas Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan kesehatan sehingga penjangkauan dan pendampingan terhadap pekerja seks sebelum lokalisasi ditutup membuat petugas LSM yang biasanya intervensi terhadap perubahan perilaku untuk menggunakan kondom, serta akses ARV bagi pekerja seks yang terinfeksi HIV, ataupun sekedar memberikan informasi dasar HIV dan infeksi menular seksual menjadi tidak efektif dan efisien.

Sehingga pekerja seks perempuan tidak lagi mempunyai akses pada alat pencegahan untuk mencegah transmisi HIV, terutama pekerja seks yang miskin, yang bekerja sendiri dan berada pada relasi kuasa tidak setara dengan mucikari dan kliennya.

Hal ini menyebabkan kerentanan pekerja seks perempuan terhadap risiko infeksi HIV semakin tinggi. Akibatnya pekerja seks dengan IMS semakin sulit terdiagnosis.

Upaya penemuan kasus HIV untuk menghubungkan pekerja seks yang terinfeksi HIV dengan layanan pengobatan dan dukungan untuk kualitas yang lebih baik semakin sulit dilakukan petugas di lapangan. Karena itu Pemerintah perlu memberikan fasilitas dan perlindungan agar penjangkauan pekerja seks pasca pembubaran lokalisasi tetap dapat dilakukan.

Upaya ini bisa dilakukan dengan memberikan fasilitas bagi komunitas pekerja seks untuk memperkuat kapasitas tokoh sebaya, melakukan penjagaan kawan serta pengembangan sistem informasi dan pendataan. Pemerintah juga perlu memperkuat program penanggulangan HIV dan infeksi menular seksual sehingga tingkat Rukun Tetangga di masyarakat karena sangat penting untuk memberikan pemahaman tentang HIV dari sisi kesehatan lebih komprehensif.

HIV adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4, semakin banyak sel CD4 yang dihancurkan kekebalan tubuh akan semakin lemah sehingga rentan terserang berbagai penyakit.

Issue HIV seringkali dihubungkan dengan peranan komunitas, hal ini berkaitan erat dengan Media dimana Media memiliki peranan yang sangat besar dan memiliki pengaruh yang sangat kuat sebagai pusat perhatian publik untuk mengetahui dan mencari berbagai informasi, menyebarkan informasi dan menambah pengetahuan. Sumber informasi yang dijadikan sebagai bahan pemberitaan oleh media juga berasal dari masyarakat itu sendiri

Indonesia memiliki media massa yang beraneka ragam dengan tingkat perkembangan yang berkembang dengan pesat, kebebasan yang diberikan negara dengan menerbitkan sebuah peraturan Undang-Undang No 40 tahun 1999 tentang pers.

Komunitas kerap kali mengalami stigma dan diskriminasi yang dilakukan oleh masyarakat melalui pemberitaan di media online atau cetak, bentuk stigma dan diskriminasi terhadap komunitas banyak didapati dari pemberitaan yang selama ini memberitakan komunitas hanya dari sudut pandang yang negatif dan penyebaran virus HIV seringkali sering kali digemborkan disebabkan oleh komunitas populasi kunci.

Program penanggulangan HIV di Indonesia yang dilakukan oleh instansi kesehatan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) selama ini sudah banyak dilakukan dengan melibatkan komunitas populasi kunci namun pemberitaan media online atau cetak masih kerap menyudutkan bahwa komunitas adalah sumber utama dalam isu penyebaran virus HIV.

Melalui acara ini diharapkan akan membangun jejaring antara populasi kunci maupun lembaga komunitas populasi kunci dengan berbagai media cetak maupun elektronik sehingga dapat menghapus stigma dan diskriminasi pemberitaan terhadap komunitas.

Peranan media menjadi sangat penting bagi komunitas dalam menekan dampak stigma dan diskriminasi yang selalu diterima oleh komunitas populasi kunci. Melalui kegiatan establishment networking with Media, OPSI bekerjasama dengan Indonesia Aids Coalision (IAC) melalui dukungan pendanaan Global Found-New Founding Model continue (GF – NFMC) mengadakan pertemuan dan diskusi bersama media online atau cetak dengan komunitas populasi kunci guna membahas dampak stigma dan diskriminasi pemberitaan terhadap komunitas populasi kunci.(Putra).

No Responses

Leave a Reply