Saat Tim Puslitbang Lektur Berburu Naskah di Aceh

 Nasional

Jakarta, – Tim Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi yang dipimpin langsung oleh Kepala Pusat Litbang Lektur Muhammad Zain, selama dua hari, Rabu-Kamis (11-12/4) lalu berkunjung ke dua tempat penyimpanan naskah di Aceh Besar dan Banda Aceh.

Museum Peduli Sejarah(Mapesa) yang terletak di Punge Blang Tjut, Banda Aceh adalah salah satu tempat penyimpanan naskah yang dimiliki oleh Masykur (20 tahun) asal Pidie. Ia menekuni koleksi naskah dan barang-barang antik sejak empat tahun yang silam, tepatnya ketika ia sedang berada di bangku sekolah SMA kelas II.

Jumlah naskah yang dikumpulkannya sebanyak 400 naskah, 200 naskah disimpan di Mapesa, Aceh Besar, 200 naskah lainnya disimpan di rumah orang tuanya di Luengputu, Pidie Jaya.

Naskah yang dikoleksi berjenis mushaf Alquran sejak abad ke 16M dan kitab-kitab ilmu pengetahuan agama lainnya, seperti Fiqih, Tasawuf, ilmu falak, ilmu Tajwid, Sejarah Aceh, dan obat- obatan serta azimat dan ta’bir gempa. Pada umumnya naskah-naskah tersebut diproduksi antara abad ke-17-19M.

Kondisi naskah-naskah ini masih belum mendapatkan perawatan yang baik, sementara keadaannya sudah rusak dan bahkan terpisah dari jilidan. Naskah-naskah ini belum dikatalogisasi dan didigitalisasi.

Pada hari Kamis (12/4) tim memburu lagi pelacakan naskah Aceh pada kolektor lainnya bernamaTarmizi (50 tahun), di Komplek BIP Ie Masen (Banda Aceh), asal Pidie juga.

Ia memiliki naskah 600 an dengan variasi isi yang berbeda-beda. Ia menyimpan sejumlah karya-karya besar dan penting, seperti karya Abdurrauf Singkil, Mir’atutTullab, karya pertama Ar-Raniri, Akhbarul Akhirat, kitabTajulMuluk, kitab Dala’ilulKhairat, dan banyak lagi kitab-kitab penting lainnya.

Kondisi naskah sebagian sudah direstorasi, namun ia belum membuat katalog dan digitalisasi. Ia mencintai naskah ini sudah sejak tahun 1995. Ia memiliki idealisme untuk menjaga dan menyimpan manuskripnya untuk diberikan kesempatan kepada pengkaji dan penelaah manuskrip dari mana dan siapa pun.

Namun ia tidak berkenan memberikan fisik dan kopi digital manuskripnya kepada lembaga-lembaga luar negeri, baik dalam bentuk kerjasama, menjual, menyimpan di lembaga-lembaga tertentu di luar negeri. Ia membuka pintu kerjasama penyelamatan manuskripnya hanya dengan lembaga-lembaga pemerintah negerinya dengan tetap menempatkannya di lokasinya.

“Dari dua pengoleksi yang sempat dikunjungi tim, memberikan tantangan baru bagi Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi untuk melakukan banyak hal terkait penyelamatan warisan bangsa yang sangat berharga bagi generasi sekarang dan akan datang,” ungkap Kepala Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi Muhammad Zain.

Gak Pake #Mahal

No Responses

Leave a Reply