Menjelang Pemilu Serentak Para Elit Saling Menghujat

 Opini

JAKARTA – Sudah tinggal beberapa hari lagi pesta demokrasi Indonesia akan digelar. Namun para elit politik Indonesia tidak menunjukkan aksi politiknya yang menyejukkan masyarakat. Mereka saling serang, menjatuhkan, menjelekkan serta saling membuka aib lawan politiknya.

Lihat saja di media sosial hal semacam itu kerap kali muncul. Cuitan maupun berbagai kata politik juga mulai dimainkan. Permainan politik semacam itu bukan dilakukan oleh pelaku politik, melainkan oleh para tim suksesnya. Sementara pelaku politik hanya diam seribu bahasa.

Melihat perilaku tim sukses seperti ini tentunya tidak mencerminkan perilaku politik yang santun dan memberikan pencerahan kepada masyarakat yang mempunyai hak pilih.

Justru yang terjadi masyarakat seperti diadu domba melalui tangan-tangan timses yang dibayar oleh pelaku politik.

Kita lihat saja dalam pilpres, masing-masing timses saling menghujat, menjatuhkan, menjelekkan kridibilitas kedua pasangan calon presiden. Semua timses mengadu argumentasi kejelekan politik terhadap lawannya. Bukan mengadu program maupun mengadu intelektual kepada masyarakat.

Debat-debat yang digelar KPU Pusat sebenarnya bukan untuk memberikan pencerahan terhadap prestasi masing-masing justru malah yang muncul adanya hujatan serta berbagai celah kejelekkan yang dimainkan.

Ini jelas bahwa kondisi semacam ini tidak menguntungka bagi masyarakat. Calon yang belum pernah duduk di eksekutif malah dinilai yang macam-macam. Ini aneh, sementara calon yang sudah berdiri diatas eksekutif, malah diagung-agungkan. Terang saja mereka sudah pernah ada didalam pemerintahan wajar melakukan, karena itu adalah tuntutan dari Undang-undang dan tuntutan dari kebijakan parlemen. Mereka harus melaksanakan itu. Karena mereka sudah terpilih.

Terlepas dari keterlibatannya pada satu golongan tertentu saja, melainkan sang calon terpilih harus melakukan kerjanya, sesuai janji politik dalam setiap kampanye politiknya, bukan dilakukan atas perintah dari partai yang menjadi penguasa saat sang calon diusung oleh partainya.

Sehingga semua ketetapan dan kebijakan eksekutif dianulir oleh partai penguasa saat itu. Masyarakat juga seharus bukan hanya sekedar memberikan hak suara kepada sang calon, masyarakat juga akan selalu memberikan kritikan, tentunya melalui legislatif suara rakyat harus disampaikan.

Menjelang pemilu serentak pada 17 april 2019 harus benar-benar dilakukan sesuai prosedur Undang-undang yang berlaku. Sudahi politik hujan menghujat, berikan rakyat pendidikan politik yang benar. Jangan jadikan rakyat hanya sebatas pemberi suara saja, melainkan semua janji kampanye harus juga diperhatikan.

Rakyat bukan tempat untuk pelampiasan nafsu para elit, melainkan rakyat juga ingin hidup bahagia, sejahtera, semua kebutuhan pangan, sandang dan papannya terpenuhi. Jangan juga setelah terpilih semua diabaikan. Semoga ini jadi pelajaran buat kita, agar indonesia tidak jadi negara yang penuh dengan konflik. (Legino. Jr – penulis pemred Indonesiaxpost.id)

No Responses

Leave a Reply