Mendikbud Buka Pekan Kebudayaan Aceh

 Nasional

akarta, — Ditandai dengan menabuh rapa-i pasee, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, didampingi Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, dan Wali Nanggroe Aceh, Teungku Malik Mahmud Al-Haythar, secara resmi membuka Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7 tahun 2018, di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, pada Minggu malam (5/8/2018).

“Dengan mengucapkan bismillahirrahmaanirrahiim, maka Pekan Kebudayaan Aceh ke-7 tahun 2018 dengan resmi saya nyatakan dibuka,” disampaikan Mendikbud, dilanjutkan dengan menabuh rapa-i pasee di depan 30.000 pengunjung yang hadir.

Dalam sambutannya, Mendikbud mengatakan, dengan diselenggarakannya kegiatan PKA ke-7 ini, masyarakat Aceh menjadi saksi atas terselenggaranya pagelaran kolosal kebudayaan yang digelar Pemerintah Aceh, berlangsung selama sepuluh hari kedepan. “Atas nama Pemerintah Republik Indonesia, saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas terselenggaranya event (acara) megah ini,” kata Muhadjir.

Dengan terselenggaranya PKA ke-7 yang telah berlangsung sejak tahun 1958 ini, menurut Mendikbud, menunjukkan bahwa masyarakat Aceh sangat menjunjung tinggi budaya dan menghormati keberagaman suku dan etnik yang ada di Provinsi Aceh. “Mengingat etnik yang ada, tentunya event ini dapat dilakukan secara terencana dan intensif sehingga diperlukan banyak event dengan interval yang lebih singkat untuk merayakannya,” ujar Mendikbud.

Muhadjir juga menyampaikan, bahwa pada tahun 2017 Pemerintah telah mengesahkan Undang-undang tentang Pemajuan Kebudayaan yang bertujuan untuk memajukan kebudayaan secara nasional. Menurutnya, sejak merdeka 73 tahun lalu, baru kali ini Indonesia memiliki Undang-undang Kebudayaan.

“Mulai tahun depan, kegiatan kebudayaan akan memiliki anggaran tersendiri dan ada dana alokasi khusus untuk kebudayaan. Sehingga mudah-mudahan dari tahun ke tahun kebudayaan kita akan menempati posisi yang strategis baik itu mulai penyelenggaraan maupun anggarannya,” pungkas Mendikbud.

Selaku tuan rumah, Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, menjelaskan pagelaran empat tahunan ini adalah sebuah momen pagelaran khasanah budaya rakyat Aceh yang telah berlangsung sejak 1958. Pada dasarnya, kegiatan ini diselenggarakan untuk memperkuat rasa persaudaraan sesama rakyat Aceh melalui kegiatan budaya dan syiar agama.

“Mengingat ada banyak ragam budaya yang berkembang di Aceh, semua budaya di Aceh umumnya tidak terpisahkan dari tradisi Islam. Hukum Islam dan hukum adat masyarakat Aceh ibarat benda dengan sifatnya tidak mungkin terpisahkan,” ungkap Nova Iriansyah.

Pembukaan PKA ke-7 tahun 2018 diawali dengan parade peserta dari 23 kabupaten/kota di Aceh dan dilanjutkan dengan kemeriahan Tari Guel, salah satu tarian khusus dari Aceh Tengah yang dibawakan oleh 100 penari. Tari Guel tersebut dipadukan dengan pembacaan puisi oleh penyair Tiara dan Ine Hidayah yang melantunkan nyanyian pengiring dalam bahasa Gayo.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid, yang turut menyaksikan tari ini, merasa takjub dan terpesona dengan tari asal Takengon ini. “Saya kagum dan terpesona. Senang sekali menontonnya, hebat,” ungkap Hilmar Farid.

Pembukaan PKA ke-7 juga disemarakkan dengan tarian masal dengan melibatkan 1.000 penari dan pemain teater yang menggambarkan perjalanan Aceh dan keberagaman budaya Aceh dengan berbagai etnik seperti Aceh, Singkil, Gayo, Aneuk Jamee, Simuleu, Haloban, Alas, Tamiang, Sigulai dan Kluet.(*)

No Responses

Leave a Reply