Indonesia Tuan Rumah Pertemuan the 8th ASEAN Ministers Responsible for Culture and Arts (AMCA)

 Nasional

Yogyakarta, – Sebagai komitmen Pemerintah dalam pemajuan kebudayaan, dan memperkuat peran Indonesia di kancah Internasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun ini mengambil peran sebagai tuan rumah pertemuan The 8th ASEAN Ministers Responsible for Culture and Arts (AMCA).

Pertemuan tersebut dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia, Muhadjir Effendy, di Hotel Hyatt Regency, Yogyakarta pada Selasa (24/10/2018). “Pertemuan ini menyatukan kita untuk menyamakan pandangan bagaimana memperkuat peran sektor budaya dalam membangun komunitas dan identitas ASEAN serta untuk menguatkan koordinasi pada tingkat nasional dan ASEAN,” ujar Mendikbud.

Ditambahkan Mendikbud, penyelenggaraan AMCA merupakan manifestasi dari upaya bersama untuk memperkuat kerja sama budaya antara negara-negara ASEAN. “Saya berharap pertemuan ini akan menghasilkan hal-hal yang sangat positif dalam bidang sosial budaya demi menuju ASEAN yang lebih inklusi, harmonis, sejahtera dan berorientasi pada rakyat. Selain itu, kita juga harus menjaga kerja sama jangka panjang dengan mitra dialog guna memperkaya maksud dan tujuan komunitas ASEAN,” ungkap Muhadjir dalam sambutannya.

Keberagaman budaya, kata Mendikbud, merupakan identitas kebangsaan Indonesia. Terdapat lebih dari 300 kelompok etnis di Indonesia, dan masing-masing etnis tersebut memiliki seperangkat aturan serta objek budaya yang berbeda. “Bagi kami keberagaman adalah aset yang berharga”, ucapnya.

Pertemuan AMCA tahun ini mengangkat tema “Embracing the ASEAN Culture of Prevention to Enrich ASEAN Identity”. Tema tersebut merupakan kelanjutan dari hasil 31st ASEAN Summit berupa “ASEAN Declaration on Culture of Prevention (CoP)”. Deklarasi tersebut bertujuan untuk menciptakan kedamaian, keterbukaan, kebangkitan, kesehatan, dan masyarakat yang harmonis.

Dengan adanya deklarasi tersebut, menurut Muhadjir, dapat mendorong terbentuknya kebijakan dan inisiatif membangun budaya pencegahan di tingkat pengambil kebijakan untuk selanjutnya diimplementasikan pada masyarakat luas. Selain itu, dapat mendorong dan memperkuat kesadaran serta pola pikir masyarakat dalam mempraktekan nilai-nilai positif.

Lebih lanjut Muhadjir menjelaskan tentang Empat Pilar Kebangsaan yang menjadi pemersatu bangsa. Pilar tersebut adalah Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Semboyan negara Bhinneka Tunggal Ika.

Lima prinsip Pancasila mengajarkan bangsa Indonesia untuk memiliki sikap toleran, saling menghormati, dan perilaku yang damai. “Pancasila menciptakan persatuan di dalam masyarakat yang majemuk seperti yang dirumuskan ke dalam semboyan negara “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua,” jelas Mendikbud.

Setelah 72 tahun kemerdekaan, kata Mendikbud, Indonesia saat ini sudah memiliki peraturan yang mengatur tentang budaya yakni Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. “Saat ini, kami secara intensif terus mengembangkan dan memaksimalkan produk dan nilai-nilai budaya dengan mendorong dan memfasilitasi masyarakat untuk berpartisipasi lebih aktif,” terang Mendikbud.

Terdapat 4 strategi untuk mengimplementasikan regulasi tersebut yaitu perlindungan, pembangunan, pemanfaatan, dan pembinaan. Lebih lanjut, terdapat 10 obyek yang temasuk dalam regulasi tersebut yaitu tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, permainan rakyat, olahraga tradisional, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, dan ritus.

“Indonesia siap untuk berpartisipasi aktif dalam melaksanakan ASEAN Declaration on Culture of Prevention, kami juga mengajak komunitas global melalui inisiasi seperti Bali Promise dan Bali Declaration dari World Culture Forum,” kata Mendikbud.

Sesuai tema “Embracing the ASEAN Culture of Prevention to Enrich ASEAN Identity” dan “Yogyakarta Declaration”, Mendikbud melihat bahwa forum ini adalah tempat yang tepat untuk mempromosikan peradaban persatuan dalam skala yang besar. “Jika anggota ASEAN dapat melaksanakannya, saya percaya bahwa negara lain akan mengikutinya”, tutur Mendikbud.

Pertemuan Menteri Bidang Kebudayaan se-ASEAN atau ASEAN Ministers Responsible for Culture and Arts (AMCA) didahului oleh pertemuan pejabat senior ASEAN yang bertanggung jawab untuk kebudayaan dan seni atau Senior Official Responsible for Culture and Arts (SOMCA) ASEAN yang dibuka pada Senin, 22 Oktober 2018 di Hotel Hyatt Regency, Yogyakarta. Dua pertemuan ini diikuti oleh 81 delegasi dari seluruh anggota negara ASEAN dan 3 negara wicara, yakni Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan.

Program Unggulan Kemendikbud

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memiliki program unggulan dalam bidang kebudayaan seperti Indonesiana, Kemah di Wilayah Perbatasan, dan Persemaian Budaya. Melalui program ini masyarakat dan generasi muda ditanamkan nilai-nilai positif dari kearifan lokal yang ada.

“Melalui Indonesiana, kami percaya akan menguatkan dan mengembangkan ekosistem budaya masyarakat yang akan mempertahankan kebelangsungan kearifan lokal suatu wilayah dengan memperkenalkan dan melakukan pertukaran budaya. Hal ini dilaksanakan bersama dengan pemerintah daerah, perusahaan swasta, dan komunitas budaya. Saling mengakui dan memahami antar komunitas akan menciptakan keharmonisan, kedamaian, dan persatuan,” ungkap Muhadjir.

Selain program tersebut, Kemendikbud menginisiasi program lainnya yang tidak kalah penting yaitu membentuk Pokok-pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD), merupakan rencana kerja berdasarkan data dan fakta dari masyarakat. Rencana ini membantu Pemerintah dalam mengukur ketercapaian implementasi dari Undang-undang.

No Responses

Leave a Reply