Fuad Bawazier, Membaca Statisik Kekalahan Jokowi

 Nasional
JAKARTA – MESKI pemilihan Presiden baru akan dimulai pada 17 April 2019, namun prediksi siapa yang menang berdasarkan hasil survey sudah banyak bermunculan.

Adalah pengamat ekonomi dan politik Fuad Bawazier yang memprediksi Presiden Jokowi akan kalah dalam pemilihan presiden 2019 mendatang.

Berbicara di Rumah Aspirasi di Jl. Cut Meutia Nomor 18, Menteng Jakarta Pusat Minggu (23/12/2018) pada Deklarasi Relawan Sembilan Nasional Prabowo-Sandi (RESPON), Fuad Bawazier mengatakan  banyak Survey yang mengatakan bahwa Presiden Jokowi berada di bawah 50 persen.

 

“Pak Jokowi, haqqul yakin sudah di bawah 50 persen. Undecided voters (baca: mereka yang belum memilih), itu dalam statistic most likely  adalah orang-orang yang tidak mau Jokowi kembali jadi presiden. Biasanya mereka akan bersuara pada menit terakhir,” ujar Fuad Bawazier.

Fenomena undiceded voters inim kata Fuad Bawazier, ada pada Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan kaum milineal. Khusus PNS, meski selama ini ditekan, dan dimobilisasi untuk datang pada kampanye Jokowi, dirinya yakin pada akhirnya PNS ini tidak akan mendukung Jokowi.

“PNS itu harus netral, dan profesional,” paparnya.

Dia menjelaskan, di luar negeri, incumbent itu harus berada pada 60 persen elektabilitasnya jika ingin menang. Sementara Jokowi saat ini elektabilitasnya terus menurun.

Fuad membandingkan, persentase Jokowi sebagai incumbent ini sama ketika Megawati menjadi incumbent melawan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada tahun 2004. Pada saat itu persentasi Megawati juga berada di bawah 50 persen dan akhirnya dia kalah melawan SBY.

Pak Jokowi, statistiknya turun. Rakyat pada saat yang sama melihat ada indikasi kecurangan. misal orang gila boleh milih, 31 juta data pemilih tidak boleh dibuka pemerintah. Untung saja Prabowo ‘rewel’ hingga akhirnya bisa dibuka dan pehtingannya hingga kini tinggal sekitar 1,6 persen jumlah.

“Sekarang ini fenomena kecurangan kelihatan setiap hari. Karena itu adalah tugas kita untuk mengawal di TPS-TPS,” gugahnya.

Terkait kecurangan, Ketua Umum Rumah Aspirasi Herlambang mengatakan akan membuat program pelatihan saksi bekerja sama dengan Bawaslu.

“Pelatihan dan pembekalan ini akan kita lakukan karena kita mencium indikasi adanya kecurangan,” pungkasnya.(Lutfi)

No Responses

Leave a Reply