FK PETISI Peduli Rakyat Melalui Menjaga dan Melestarikan Keseimbangan Tatanan Ekosistem Laut

 Politik

Jakarta- Sekretaris Jenderal (Sekjen ) Forum Alumni Perguman Tinggi Seluruh Indonesia (FA PETISI) Drs Sofyan Soemantri mengatakan, lahir di Kamal Muara, Jakarta Utara, pada 16 November 2017, karena 13 Alumni perguruan tinggi memiliki komitmen bersama warga Indonesia bertekad mengawal penghentian Reklamasi Teluk Jakarta, katanya saat konferensi Pers FK PETISI dengan tema “Tolak Reklamasi, Hentikan Reklamasi Demi NKRI” di lingkungan Taman Ismail Marjuki (TIM) Jakarta, Senin (30/4).

Sofyan menjelaskan, Deklarasi FA PETlSl pun diakui dari menggelindingnya pernyataan sikap bersama gerakan aksi Tolak Reklamasi seiring dengan pencabutan Moratorium Reklamasi pada 5 Oktober 2017.

Atas dasar komitmen dan rasa tanggung jawab untuk menyelamatkan masa depan bangsa dan negara lndonesia, FA PETlSl melakukan workshop bertema “Hentikan Reklamasi Teluk Jakarta” sesuai dengan dorongan kuat dari Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan PhD dengan tema pokok Kajian Workshop 1 Teknik dan Lingkungan serta Sosial Ekonomi Budaya” di Gedung G Komplek Pemprov DKI Jakarta dgn Nara Sumber : Dr Muslim Muin MOCE PhD, lr Muh Jehansyah Siregar MT PhD, Elisa Sutanueidjaya, JJ Rizal, Dr lr Jalal, Dr Syahganda Nainggolan.

Berikutnya “Kajian Workshop 2 yaitu Geopolitik, Hankamnas dan Hukum” di Hotel Sofyan ln Tebet, Jakarta Selatan dengan sejumlah nara sumber yang kompeten dalam bidangnya antara lain: Dr Abdul Rival MS MSi, Dr Amiruddin Dajaan SH MH, dan Dr Dian Puji Simatupang SH MH.

Hasil workshop merekomendasikan agar pihak yang berwenang menghentikan segera Proyek Reklamasi Teluk Jakarta, ucap Sofyan.

“Saya sebagai Sekjen FK PETISI akan menjadi Garda Pertama yang nantinya ada berani menghalang niat baik kami dalam membela rakyat. Sisa umur saya akan saya wakafkan demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” tegas Sofyan.

Tindak lanjutnya adalah, Ia lanjut, meminta pemerintah DKI segera melakukan penegakan hukum dan melakukan penyegelan terhadap bangunan-bangunan yang telah berdiri di Pulau-pulau Reklamasi di Teluk Jakarta itu.

Dia mengungkapkan, yang tidak kalah penting rekomendasi panitia workshop adalah “Menyerahkan Proses Hukum Terhadap Konstribusi dari pihak pengembang Proyek Reklamasi Teluk Jakarta kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Juga pihak lain yang kuat diduga banyak terlibat suap sehubungan dengan Raperda yang terkait dengan Proyek Reklamasi Teluk Jakarta.

Workshop FA PETISI juga merekomendasikan pembuatan Perda tentang alokasi Kawasan Lindung dalam Kawasan Budi Daya secara proporsional di Kawasan Teluk Jakarta. Kemudian melakukan perbaikan menyeluruh dan berkelanjutan, menyusun kajian lingkungan Hidup yang strategis secara sistematis dan menyeluruh, urainya.

Dari sembilan rekomendasi terpenting yang juga mendesak itu mengingat kondisi dan struktur Teluk Jakarta yang sudah teracak-acak itu perlu segera diselamatkan, maka menjadi sangat mendesak pula untuk segera dibentuk moratorium reklamasi agar dapat memberi ruang yang memadai bagi partisilasi publik dan dukungan ahli serta para ilmuan yang ahli dalam bidangnya, ungkapnya.

Selanjutnya, Sofyan melanjutkan, adalah perlu adanya kajian serius dan mendalam terhadap dampak pulau-pulau yang sudah dibuat itu tanpa adanya kajian yang komprehensif.

Hingga akhirnya maratorium bisa diharap dapat menemukan solusi terbaik dan jitu guna menyelamatkan tata kehidupan alam dan lingkungan secara menyeluruh dalam pengertian yang meliputi pula tatanan sosial dan budaya manusia yang ada di sekitarnya, kata Sofyan.

Sofyan menambahkan, Reklamasi Teluk Jakarta dapat dijadikan contoh dari model pembangunan yang salah Iantaran mengedepankan keuntungan dan kalkulasi ekonomi semata serta demi dan keuntungan pihak tertentu semata, tidak demi untuk nelayan dan orang banyak, akibat ketamakan para pengembang.

Dalam konteks pelaksanaan Proyek Reklamasi Teluk Jakarta yang serampangan ini -mengabaikan proses dan prosedur hukum dan pengabaian terhadap kajian yang komprehensif dari berbagai disiplin ilmu dan pengetahuan serta pemahaman yang dalam, maka ketimpangan dalam segenap aspek kehidupan akan terus berlangsung dan membuat disharmonis bagi masyarakat sekitar, tapi juga terhadap tata hidup dan kehidupan dimuka bumi, tutup Sofyan. (Putra).

No Responses

Leave a Reply