Di Era Industri Berdampak Pada Regulasi Perbankan

 Ekonomi

SURABAYA – Di era revolusi industri 4.0 memengaruhi beragam pola hidup masyarakat dunia, termasuk industri perbankan. Menggunakan teknologi, semua menjadi serba mudah, praktis dan cepat. Hal itu menuntut perbankan untuk terus berinovasi mengikuti perkembangan agar tidak tertinggal.

Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur, Difi Ahmad Johansyah, saat ini konsumen menginginkan yang murah, efisien dan gampang. Hal itu sangat dimungkinkan dengan kehadiran digital sekarang.

“Ke depan, tantangan perbankan ya bagaimana istilahnya mengembangkan produk-produk yang semakin memanjakan konsumen. Kemudahan layanan itu, bisa melalui IT maupun service yang terus semakin ditingkatkan,” ujar Difi seusai menjadi pembicara dalam diskusi Perbankan Syariah Menyongsong Digital Era, di Surabaya, Selasa (5/3).

Menurut dia, terkait regulasi, Bank Indonesia terus mendorong perbankan melakukan inovasi supaya terus berkembang. Apalagi bank juga berhadapan dengan industri Financial dan Technology (fintech) yang terus berkembang. “Kan makin bersaing makin bagus kan itu,” ungkapnya.

Disamping industri perbankan, masyarakat juga dituntut untuk meningkatkan pengetahuan mengenai literasi keuangan. Kemudahan-kemudahan yang ada harus dipelajari karena tidak ada untung besar tanpa risiko besar. “Dengan kemudahan-kemudahan ini harus dipelajari, makin mudah bisa jadi risiko besar. Jadi nasabah dituntut makin pintar,” tuturnya.

Kepala OJK Regional 4 Jawa Timur, Heru Cahyono menjelaskan, dengan adanya perkembangan fintech, industri perbankan dianjurkan untuk melakukan kolaborasi. OJK akan melakukan kajian-kajian lebih mendalam seberapa jauh regulasi itu dengan mempertimbangkan manfaat dan risikonya. “Hal ini merupakan sesuatu yang baru, kalau mau kolaborasi disitu kita mempertimbangkan seberapa besar manfaat dan risikonya bagi perbankan,” imbuhnya.

Menurut Heru Cahyono, jika bank sudah tahu risikonya maka dapat mengukur dan memantau serta melakukan mitigasi risiko. “Sendainya pada akhirnya akan diatur gak terlalu jauh dari aturan manajemen resiko, kalau mereka ingin melakukan kolaborasi dengan fintech,” katanya. (MC Diskominfo Prov Jatim/non-ryo)

No Responses

Leave a Reply