Ciptakan Terobosan Kerja Sama SMK dengan Dunia Industri

 Pendidikan

Bandung, — Pada tahun kedua pelaksanaan revitalisasi sekolah menengah kejuruan (SMK), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus mendorong peningkatan kerja sama sekolah dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Pemerintah berharap agar daerah memperhatikan beragam potensi yang ada, tak hanya yang berupa sumber daya alam saja, namun juga yang terdapat di masyarakat.
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (BKLM) Kemendikbud, Ari Santoso menekankan pentingnya daerah untuk lebih cermat dalam mencari peluang tenaga kerja terampil, tidak hanya untuk kebutuhan dalam negeri, namun juga penciptaan usaha rintisan yang dapat dilakukan lulusan SMK.
“Jawa Barat industri kreativitasnya naik, sehingga perlu dukungan dari jurusan SMK yang sesuai untuk memenuhi kerja sama dengan industri tersebut,” ujar Ari Santoso, Kamis (1/3/2018), di dalam acara Dialog Pendidikan di SMKN 9 Kota Bandung, Jawa Barat.
Pemerintah daerah diharapkan dapat membuat pengembangan jurusan sesuai dengan pemetaan potensi wilayah dan rencana ketenagakerjaan. Ari mengingatkan agar SMK terus membuat terobosan dalam pembelajaran berbasis link and match.
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, pengelolaan pendidikan menengah berada di bawah tanggung jawab pemerintah provinsi. Diperlukan sinergi antar pemangku kepentingan agar SMK dapat menghasilkan lulusan yang produktif, baik dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja kompeten, maupun dalam menciptakan lapangan usaha baru.
Sulistio Mukti Cahyono, Kepala Seksi Penyelarasan Kejuruan Direktorat SMK Kemendikbud menekankan bahwa Revitalisasi SMK merupakan tugas bersam. Pemerintah pusat maupun daerah harus bersama-sama meningkatkan kualitas pendidikan SMK. Ia berharap, dinas pendidikan provinsi dapat melaksanakan pemenuhan sarana dan prasarana SMK dengan lebih baik ke depannya.
“Tahun ini fokusnya pada peningkatan kualitas SMK. Kita akan dukung kegiatan yang inovatif, yang mendukung kerja sama antar sekolah dan juga industri,” ungkapnya.
Kemendikbud telah memberikan beragam platform agar sekolah dapat lebih memiliki fleksibilitas dalam mengelola pembelajaran siswa untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Menurut Sulis, pilihan ada di pihak sekolah untuk dapat mengelola metode pembelajaran seperti model kelas industri, teaching factory. “Intinya komunikasi yang intensif dengan industri,” jelasnya.
Ahmad Hadadi, Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat menyampaikan, banyak lulusan SMK di Jawa Barat yang sudah mulai berwirausaha, seperti pada bidang kuliner. Tak hanya itu, lulusan SMK juga banyak yang telah direkrut DUDI untuk bekerja.
“Hal ini membuat orang tua sangat antusias untuk menyekolahkan anaknya ke SMK, karena mereka yakin bahwa lulusan SMK siap kerja, bisa langsung bekerja atau membuka usaha,” tutur Hadadi.
Dalam bekerja sama dengan DUDI, Jawa Barat telah mengimplementasikan kerja sama sekolah dengan ratusan industri. Selain kompetensi, Hadadi menilai siswa juga harus dibekali dengan sikap yang baik seperti disiplin, kerja keras, dan penguasaan bahasa asing.
SMK juga harus mengikuti tren dunia usaha dan industri agar lulusannya siap kerja sesuai dengan perkembangan di luar negeri. Pada kesempatan yang sama, Deddy Surachman, Consultant dan Culinary Expert, mengatakakan sekolah dan DUDI mutlak harus meningkatkan kompetensi lulusan, karena mutu lulusan lebih penting dibanding jumlah lulusan. “Ini juga buat kepentingan industri,” ujar Chef Deddy.
Dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2016 tentang SMK, Presiden Jokowi menginstruksikan kepada 10 menteri, para gubernur, dan Kepala Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) agar mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing untuk merevitalisasi SMK. Langkah strategis ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas dan daya saing sumber daya manusia (SDM) Indonesia, khususnya dalam menghadapi persaingan global dan menyiapkan generasi emas 2045. (Prima Sari)

No Responses

Leave a Reply